Kamis, 04 Juli 2013

FF | Oneshoot | Love You Forever | Super Junior

Tittle : Love You Forever
Author : Song Woo Ri
Cast : Lee Donghae, Shin Hyu Ra (OC)
Genre : Family, Romance
Leght : oneshot
Note : fanfiction ala song woo ri terbit lagi!!! Jangan bosen baca karya fenomenal ini. NO BASHING, NO PLAGIAT. Jangan lupa follow twitt ku di @SJDhita1205. Lee Donghae milikku seorang!!! Okeh, HAPPY  READING^^
.
.
.
.
LOVE YOU FOREVER

Inilah yang kurasakan, selaalu bahagia semenjak aku bertemu dengan namja tampan yang sekarang ku panggil Lee Donghae oppa ini. Saat itu, mungkin 9 tahun yang lalu aku pergi dengan orang tuaku tapi entah aku bisa terpisah dengan mereka. Saat hujan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan sendiri. Hanya menagis dan menggigil kedinginan.
#Flashback#
“Appa, eomma” panggilku sembari masih menangis dan diam disudut sebuah toko.
“yeoja manis, apa yang kau lakukan disini?” tanya namja berumur 13 tahun itu.
“aku terpisah dengan appa eommaku. Tolong aku.?
“apa kau tau alamat rumah mu?”
“ani.” Jawabku menggeleng ringan
“lalu nama orang tuamu atau nomor telepon mereka.” Aku hanya mampu menggeleng.
“kalau begini aku tidak bisa menemukan orang tuamu. Kau mau tinggal denganku?”
“emm.”
“jangan takut, aku orang baik dan aku tinggal sendiri sangat menyenangkan kalau kau mau tinggal bersamaku.” Namja itu tersenyum tulus.
“ehmm, geuraeyo?” tanyaku ragu
“ne..”

Dan semenjak saat itu hidupku sangat bahagia memiliki oppa seperti dia. Hidup kami sangat sederhana tapi aku suka ini. Usianya masih 13 tahun tapi dia bisa menghidupiku sampai saat ini aku duduk di bangku SMA.
#Flashback End#

“apa kau senang Hyura-ya.?”
“tentu. Tapi apa oppa takut naik roller coaster.?”
“hah? Em, anio. Tentu saja tidak.”
“tapi kenapa oppa menolak tadi?”
“em, aku hanya sedikit pusing.”
“ahhaha, oppa pintar berakting.”
“geurayo. Oppa tidak berbohong Hyura-ya.”
“ne ne, arraseo oppa.”
 Oppa selalu membawaku jalan-jalan jika ada waktu. Opaa sangat baik padaku, aku sangat menyayanginya. Ohh, tidak bukan sayang tapi aku telah mencintainya.
Hal bodoh yang pernah kulakukan adalah mencintai oppaku sendiri, mianhae oppa.

*****
“baiklah, pelajaran hari ini selesai.” Sunggugh aku ingin cepat pulang, kepalaku sangat pusing dan tubuhku lemas.
“Hyura-ya.?” Tanya sahabatku khawatir
“ne?”
“apa kau baik-baik saja?”
“ne, gwaenchana.”
“kau sangat pucat.”
“aku baik-baik saja, hanya kelelahan. Aku pulang dulu, ne.”
“geurayo?”
“ne, annyeong..” pamitku padanya.

Kepalaku sangat berat, sampai-sampaiaku tidak mampu berjalan dengan tenagaku sekarang. Ada apa denganku? Aku harus ke Rumah Sakit.

In Housepital
“bagaimana uisanim?  Saya sakit apa?”
“tunggu, kau harus cek darah Hyura-ssi.”
“waeyo, apa sangat parah?”
“ani, hanya untuk memastikan kau sakit apa.”

Apa yang dokter maksud? Apa aku sakit parah? Kumohon jangan lakukan ini pada hidupku, kau oppa tidak bisa menerima keadaanku kalau aku benar-benar sakit.
“Hyura-ssi dimana keluargamu.”
“mwoya?”
“cek darah ini menunjukkan kalu kau mengidap penyakit kronis, kanker otak.” Lanjut dokter itu kemudian. Seperti ada sesuatu yang menusuk tubuhku, yang diucapkan dokter itu sungguh menyakitkan untukku.
“uisanim, itu salah kan?”
“anio, kau harus tetap semangat. Minum obat ini dan ajak keluargamu kemari ne, aku harus bicara banyak dengan mereka.”

Hidup ku sungguh tak beruntung. Kenapa harus aku? Menyebalkan. Kalau kubawa obat ini oppa bisa tau. Untuk apa aku minum obat, toh aku masih baik-baik saja. Tak ada gunanya kuminum obat ini, lebih baik kubuang.

*****
Oppa sedang sibuk dengan cara TV yang ditontonnya. Lihatlah, sangat tampan aku tidak bisa menyembunyikannya lagi. Kurasa waktuku tak lama lagi. Aku harus mengatakan semua kenyataan pahit ini. Kenyataan kalau aku menigdap kanker otak, sudah 1 bulan semenjak aku divonis dokter oppa belum juga tau.
“Hyura? Shin Hyura?” suara lembutnya menyadarkanku dari lamunanku. Wajahnya terdapat semburat ekspresi khawatir. Dan aku hanya tersenyum.
“waeyo? Kau sakit? Duduklah.”
“ne oppa.”
“apa kau tidak ada PR?” bagaimana aku tau? Semenjak penyakit ini menbuat tubuhku lemah, aku sering bolos sekolah.
“Hyura? Kau dengar aku?”
“hah? Anio oppa, aku tidak ada PR.”
“apa kau lapar?”
“anio, oppa aku ingin bicara.”
“bicaralah. Ohh, kau ingin dibelikan ponsel baru ne?”
“anio oppa, aku tidak ingin merepotkanmu lagi.”
“kau ini bicara apa? Lalu apa yang ingin kau bicarakan?”
“oppa,mianhae. Aku telah mencintaimu.”
“ahhahahaha, Hyura aku juga mencintaimu, hanya kau yang kupunya sekarang.”
“tidak, bukan sebagai sebagai oppa tapi sebagai namja.”
“Hyura jangan bercanda.” Ekspresinya berubah menjadi marah. Sebegitu lancangnyakah aku bicara ini oppa?
“aku tidak bercanda, aku serius.”
“sudahlah, kau ini mengantuk tidurlah.” Bentaknya lalu pergi ke kamar. Huft, aku tau aku salah mianhaeyo oppa. Aku tidak bermaksud menjadi dongsaeng yang seperti ini. Kepalaku, kenapa harus ada penyakit ini menyebalkan, sangat menyebalkan. Aku benci hidupku. Dan kini darah telah mengalir deras dihidungku. Aku harus segera kekamar sebelum oppa melihatnya dan sebelum tubuhku mulai kaku.

*****
DONGHAE P.O.V

Kuharap apa ang dikatakan Hyura semalam hanya bercanda. Aku tidak bisa jika harus seperti ini, sudah siang dia tak kunjung keluar dari kamarnya. Apa dia sakit? Saat kubuka pintu kamarnya, apa yang Hyura lakukan?
“Hyura-ya. Ireona, jebal ireona.” Teriakku histeris. Tubuhnya dingin karna tidur dilantai dan hidungnya mengeluarkan banyak darah sampai bajunya ternodai. Langsung kubawa dia ke Rumah Sakit.
“jebal, kajima. Hyura-ya aku menyayangimu.”

*****
“mwo?” jantungku terasa berhenti berdetak saat mendengar yang dikatakan dokter.
“sekitar satu bulan yang lalu dia datang ke rumah sakit ini dan aku yang menanganinya. Apa dia tidak minum obatnya? Kankernya sudah menyebar dan saat ini sudah mencapai stadium akhir. Hidupnya mungkin kurang dari satu bulan lagi.”
“lalu apa yang harus dilakukan supaya hidupnya bisa lebih panjang lagi.”
“tidak ada, kemungkinan berhasil sangatlah kecil Donghae-ssi. Tapi jika ingin dicoba, aku akan melakukan kemoterapi tahap 1.”
“lakukan apapun yang bisa kau lakukan dok.”
“baiklah, kita tunggu kondisinya stabil dulu.”
Dengan langkah gontai aku berjalan menuju ruang tempat Hyura dirawat. Aku tak tega melihatnya tidur lemas diatas ranjang itu dengan selang infus yang menusuk kulit putihnya. Ku genggam tangannya dengan terus menangis berharap semuanya tidak menjadi lebih buruk. Perlahan aku merasakan jari nya bergerak lembut dalam genggamanku.
“eungghh, o-oppa.” Katanya lemas

DONGHAE P.O.V  END

HYURA P.O.V
Perlahan kubuka mataku, aku di rumah sakit. Pasti oppa sudah tau, mungkin persaannya sangat hancur dengan semua yang kulakukan saat ini. Sampai-sampai dia menangis dihadapanku seperti ini.
“oppa.” Aku tersenyum, meski senyum itu hanya untuk menyembunyikan segala kepedihanku saat ini.
Oppa masih belum menjawab hanya melihatku sambil menangis. Kucoba mengusap lelehan air matanya dengan sedikit tenaga yang kupunya.
“jangan menangis oppa, aku baik-baik saja.”
“Hyura jangan lakukan ini. Jangan menyukaiku dan jangan sakit. Jebal, andwae oppa.?
“mianhae oppa,”
“kenapa kau tak minum obatnya? Waeyo?”
“aku membuangnya oppa.”
“MWO? Wae? Kau tahu, kau sangat membutuhkannya....” oppa memelukku dengan hangatnya dan kami menangis bersama. Tuhan, aku ingin lebih lama dengan oppa. Jika ini hukuman untukku karna telah mencintainya. Aku tak akan mencintainya lagi, asal kau bisa terus hidup bersamanya Tuhan.

*****
Aku ingin hidup tetap terus berjalan seperti ini. Aku sudah berhasil hidup lebih lama dari yang dokter katakan. Obat-obatan semua aku konsumsi setiap hari demi oppa, kemotrapy yang sudah membuat rambutku habispun aku jalani. Aku inig hidup ebih lama dari ini, bahkan aku belum ingin pergi, tapi entah hari ini tubuhku sangat lemah. Aku rasa waktuku tak lama lagi.
“lihat Hyura, bunga ini indah bukan?” aku hanya tersenyum lemah.
“kau kenapa? Apa yang sakit?” lagi-lagi aku hanya tersenyum. Saat ini aku dan oppa sedang di taman rumah sakit. Entah aku ingin sekali berkunjung kemari. Walaupun oppa sudah menolak tapi aku tetap merengek seperti anak kecil. Tapi sekarang tubuhku kembali kaku, hanya terduduk di kursi roda.
“kita kembali ne.”
“andwae, aku ingin duduk disana.”sangat sulit untuk mengucapkankalimat itu.
“waeyo? Baiklah, sebentar saja ne.” Oppa menggendongku untuk memmindahkanku kekursi taman yang kutunjuk tadi. Kemudian oppa memekukku supaya tidak kedinginan. Tuhan, beri aku kekuatan untuk mengucapkan kata terakhirku, jebal.
“oppa gomawo untuk semuanya. Gomawo kau telah bekerja keras untuk hidupku. Tapi mianhae dengan semua yang kulakukan, sampai saat ini aku masih mencintai oppa...”
“Hyura apa yang kau katakan?”
“berjanjilah kau harus hidup bahagia dan sehat. Jangan sepertiku yang hanya bisa menyusahkanmu. Promise.” Ku angkat jari kelingkingku dengan tenaga yang Tuhan berikan di hari terakhir hidupku ini.
“jangan lakukan itu, kau membuatku takut.” Pelukan oppa semakin erat.
“aku lelah oppa. Aku ingin tidur.”
“tapi kau harus bangun ne.” Aku siap Tuhan jika harus pergi meninggalkannya sekarang. Ku tarik nafasku dalam-dalam, aku masih baik-baik saja sampai darah itu mengalir lagi lewat hidungku dan nafasku mulai memberat tiap detiknya. Hingga aku merasa melayang keluar dari tubuhku sendiri. Oppa masih memeluk tubuhku karna dia belum sadar akan kepergianku. Gwaenchana oppa, kuyakin kau akan bahagia. Saranghae oppa...
.
.
.
.
FIN
.
.
.
Annyeong, ini adalah FF titipan temen. Bagi yang lewat atau gak sengaja baca, mohon tinggalkan komentar ne. Karna 1 komentar itu sangat mempengaruhi kerja author yang lain. Kemungkinan ada 3 author di blog ini, yang ini FF karangan author Dhita. Sedang yang lain masih belum publish FF, soalnya masih liat-liat seberapa baik para reader yang mau kasih komentar. Hhohohho ^^
Jeongmal gomawo bagi yang mau komen, #hug and Kiss :*


Follow juga twitter Owner dari blog ini @youngsml0101 dan silahkan mention kalau mau tanya-tanya atau sekedar mau temenan sama author  wkkkwkwk :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar