Tittle : Love You Forever
Author : Song Woo Ri
Cast : Lee Donghae, Shin Hyu Ra (OC)
Genre : Family, Romance
Leght : oneshot
Note : fanfiction ala song woo ri terbit lagi!!! Jangan
bosen baca karya fenomenal ini. NO BASHING, NO PLAGIAT. Jangan lupa follow twitt
ku di @SJDhita1205. Lee Donghae milikku seorang!!! Okeh, HAPPY READING^^
.
.
.
.
LOVE YOU FOREVER
Inilah yang kurasakan, selaalu bahagia semenjak aku bertemu
dengan namja tampan yang sekarang ku panggil Lee Donghae oppa ini. Saat itu,
mungkin 9 tahun yang lalu aku pergi dengan orang tuaku tapi entah aku bisa
terpisah dengan mereka. Saat hujan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan
sendiri. Hanya menagis dan menggigil kedinginan.
#Flashback#
“Appa, eomma” panggilku sembari masih menangis dan diam disudut
sebuah toko.
“yeoja manis, apa yang kau lakukan disini?” tanya namja
berumur 13 tahun itu.
“aku terpisah dengan appa eommaku. Tolong aku.?
“apa kau tau alamat rumah mu?”
“ani.” Jawabku menggeleng ringan
“lalu nama orang tuamu atau nomor telepon mereka.” Aku hanya
mampu menggeleng.
“kalau begini aku tidak bisa menemukan orang tuamu. Kau mau
tinggal denganku?”
“emm.”
“jangan takut, aku orang baik dan aku tinggal sendiri sangat
menyenangkan kalau kau mau tinggal bersamaku.” Namja itu tersenyum tulus.
“ehmm, geuraeyo?” tanyaku ragu
“ne..”
Dan semenjak saat itu hidupku sangat bahagia memiliki oppa
seperti dia. Hidup kami sangat sederhana tapi aku suka ini. Usianya masih 13
tahun tapi dia bisa menghidupiku sampai saat ini aku duduk di bangku SMA.
#Flashback End#
“apa kau senang Hyura-ya.?”
“tentu. Tapi apa oppa takut naik roller coaster.?”
“hah? Em, anio. Tentu saja tidak.”
“tapi kenapa oppa menolak tadi?”
“em, aku hanya sedikit pusing.”
“ahhaha, oppa pintar berakting.”
“geurayo. Oppa tidak berbohong Hyura-ya.”
“ne ne, arraseo oppa.”
Oppa selalu membawaku
jalan-jalan jika ada waktu. Opaa sangat baik padaku, aku sangat menyayanginya.
Ohh, tidak bukan sayang tapi aku telah mencintainya.
Hal bodoh yang pernah kulakukan adalah mencintai oppaku
sendiri, mianhae oppa.
*****
“baiklah, pelajaran hari ini selesai.” Sunggugh aku ingin
cepat pulang, kepalaku sangat pusing dan tubuhku lemas.
“Hyura-ya.?” Tanya sahabatku khawatir
“ne?”
“apa kau baik-baik saja?”
“ne, gwaenchana.”
“kau sangat pucat.”
“aku baik-baik saja, hanya kelelahan. Aku pulang dulu, ne.”
“geurayo?”
“ne, annyeong..” pamitku padanya.
Kepalaku sangat berat, sampai-sampaiaku tidak mampu berjalan
dengan tenagaku sekarang. Ada apa denganku? Aku harus ke Rumah Sakit.
In Housepital
“bagaimana uisanim?
Saya sakit apa?”
“tunggu, kau harus cek darah Hyura-ssi.”
“waeyo, apa sangat parah?”
“ani, hanya untuk memastikan kau sakit apa.”
Apa yang dokter maksud? Apa aku sakit parah? Kumohon jangan
lakukan ini pada hidupku, kau oppa tidak bisa menerima keadaanku kalau aku
benar-benar sakit.
“Hyura-ssi dimana keluargamu.”
“mwoya?”
“cek darah ini menunjukkan kalu kau mengidap penyakit kronis, kanker otak.” Lanjut dokter itu kemudian. Seperti ada sesuatu yang menusuk tubuhku, yang diucapkan dokter itu sungguh menyakitkan untukku.
“cek darah ini menunjukkan kalu kau mengidap penyakit kronis, kanker otak.” Lanjut dokter itu kemudian. Seperti ada sesuatu yang menusuk tubuhku, yang diucapkan dokter itu sungguh menyakitkan untukku.
“uisanim, itu salah kan?”
“anio, kau harus tetap semangat. Minum obat ini dan ajak
keluargamu kemari ne, aku harus bicara banyak dengan mereka.”
Hidup ku sungguh tak beruntung. Kenapa harus aku?
Menyebalkan. Kalau kubawa obat ini oppa bisa tau. Untuk apa aku minum obat, toh
aku masih baik-baik saja. Tak ada gunanya kuminum obat ini, lebih baik kubuang.
*****
Oppa sedang sibuk dengan cara TV yang ditontonnya. Lihatlah,
sangat tampan aku tidak bisa menyembunyikannya lagi. Kurasa waktuku tak lama
lagi. Aku harus mengatakan semua kenyataan pahit ini. Kenyataan kalau aku
menigdap kanker otak, sudah 1 bulan semenjak aku divonis dokter oppa belum
juga tau.
“Hyura? Shin Hyura?” suara lembutnya menyadarkanku dari
lamunanku. Wajahnya terdapat semburat ekspresi khawatir. Dan aku hanya
tersenyum.
“waeyo? Kau sakit? Duduklah.”
“ne oppa.”
“apa kau tidak ada PR?” bagaimana aku tau? Semenjak penyakit
ini menbuat tubuhku lemah, aku sering bolos sekolah.
“Hyura? Kau dengar aku?”
“hah? Anio oppa, aku tidak ada PR.”
“apa kau lapar?”
“anio, oppa aku ingin bicara.”
“bicaralah. Ohh, kau ingin dibelikan ponsel baru ne?”
“anio oppa, aku tidak ingin merepotkanmu lagi.”
“kau ini bicara apa? Lalu apa yang ingin kau bicarakan?”
“oppa,mianhae. Aku telah mencintaimu.”
“ahhahahaha, Hyura aku juga mencintaimu, hanya kau yang
kupunya sekarang.”
“tidak, bukan sebagai sebagai oppa tapi sebagai namja.”
“Hyura jangan bercanda.” Ekspresinya berubah menjadi marah.
Sebegitu lancangnyakah aku bicara ini oppa?
“aku tidak bercanda, aku serius.”
“sudahlah, kau ini mengantuk tidurlah.” Bentaknya lalu pergi
ke kamar. Huft, aku tau aku salah mianhaeyo oppa. Aku tidak bermaksud menjadi
dongsaeng yang seperti ini. Kepalaku, kenapa harus ada penyakit ini
menyebalkan, sangat menyebalkan. Aku benci hidupku. Dan kini darah telah
mengalir deras dihidungku. Aku harus segera kekamar sebelum oppa melihatnya dan
sebelum tubuhku mulai kaku.
*****
DONGHAE P.O.V
Kuharap apa ang dikatakan Hyura semalam hanya bercanda. Aku
tidak bisa jika harus seperti ini, sudah siang dia tak kunjung keluar dari
kamarnya. Apa dia sakit? Saat kubuka pintu kamarnya, apa yang Hyura lakukan?
“Hyura-ya. Ireona, jebal ireona.” Teriakku histeris.
Tubuhnya dingin karna tidur dilantai dan hidungnya mengeluarkan banyak darah
sampai bajunya ternodai. Langsung kubawa dia ke Rumah Sakit.
“jebal, kajima. Hyura-ya aku menyayangimu.”
*****
“mwo?” jantungku terasa berhenti berdetak saat mendengar
yang dikatakan dokter.
“sekitar satu bulan yang lalu dia datang ke rumah sakit ini
dan aku yang menanganinya. Apa dia tidak minum obatnya? Kankernya sudah
menyebar dan saat ini sudah mencapai stadium akhir. Hidupnya mungkin kurang
dari satu bulan lagi.”
“lalu apa yang harus dilakukan supaya hidupnya bisa lebih
panjang lagi.”
“tidak ada, kemungkinan berhasil sangatlah kecil
Donghae-ssi. Tapi jika ingin dicoba, aku akan melakukan kemoterapi tahap 1.”
“lakukan apapun yang bisa kau lakukan dok.”
“baiklah, kita tunggu kondisinya stabil dulu.”
Dengan langkah gontai aku berjalan menuju ruang tempat Hyura
dirawat. Aku tak tega melihatnya tidur lemas diatas ranjang itu dengan selang
infus yang menusuk kulit putihnya. Ku genggam tangannya dengan terus menangis
berharap semuanya tidak menjadi lebih buruk. Perlahan aku merasakan jari nya bergerak
lembut dalam genggamanku.
“eungghh, o-oppa.” Katanya lemas
DONGHAE P.O.V END
HYURA P.O.V
Perlahan kubuka mataku, aku di rumah sakit. Pasti oppa sudah
tau, mungkin persaannya sangat hancur dengan semua yang kulakukan saat ini.
Sampai-sampai dia menangis dihadapanku seperti ini.
“oppa.” Aku tersenyum, meski senyum itu hanya untuk
menyembunyikan segala kepedihanku saat ini.
Oppa masih belum menjawab hanya melihatku sambil menangis.
Kucoba mengusap lelehan air matanya dengan sedikit tenaga yang kupunya.
“jangan menangis oppa, aku baik-baik saja.”
“Hyura jangan lakukan ini. Jangan menyukaiku dan jangan
sakit. Jebal, andwae oppa.?
“mianhae oppa,”
“kenapa kau tak minum obatnya? Waeyo?”
“aku membuangnya oppa.”
“MWO? Wae? Kau tahu, kau sangat membutuhkannya....” oppa
memelukku dengan hangatnya dan kami menangis bersama. Tuhan, aku ingin lebih
lama dengan oppa. Jika ini hukuman untukku karna telah mencintainya. Aku tak
akan mencintainya lagi, asal kau bisa terus hidup bersamanya Tuhan.
*****
Aku ingin hidup tetap terus berjalan seperti ini. Aku sudah
berhasil hidup lebih lama dari yang dokter katakan. Obat-obatan semua aku
konsumsi setiap hari demi oppa, kemotrapy yang sudah membuat rambutku habispun
aku jalani. Aku inig hidup ebih lama dari ini, bahkan aku belum ingin pergi,
tapi entah hari ini tubuhku sangat lemah. Aku rasa waktuku tak lama lagi.
“lihat Hyura, bunga ini indah bukan?” aku hanya tersenyum
lemah.
“kau kenapa? Apa yang sakit?” lagi-lagi aku hanya tersenyum.
Saat ini aku dan oppa sedang di taman rumah sakit. Entah aku ingin sekali
berkunjung kemari. Walaupun oppa sudah menolak tapi aku tetap merengek seperti
anak kecil. Tapi sekarang tubuhku kembali kaku, hanya terduduk di kursi roda.
“kita kembali ne.”
“andwae, aku ingin duduk disana.”sangat sulit untuk
mengucapkankalimat itu.
“waeyo? Baiklah, sebentar saja ne.” Oppa menggendongku untuk
memmindahkanku kekursi taman yang kutunjuk tadi. Kemudian oppa memekukku supaya
tidak kedinginan. Tuhan, beri aku kekuatan untuk mengucapkan kata terakhirku,
jebal.
“oppa gomawo untuk semuanya. Gomawo kau telah bekerja keras
untuk hidupku. Tapi mianhae dengan semua yang kulakukan, sampai saat ini aku
masih mencintai oppa...”
“Hyura apa yang kau katakan?”
“berjanjilah kau harus hidup bahagia dan sehat. Jangan
sepertiku yang hanya bisa menyusahkanmu. Promise.” Ku angkat jari kelingkingku
dengan tenaga yang Tuhan berikan di hari terakhir hidupku ini.
“jangan lakukan itu, kau membuatku takut.” Pelukan oppa
semakin erat.
“aku lelah oppa. Aku ingin tidur.”
“tapi kau harus bangun ne.” Aku siap Tuhan jika harus pergi
meninggalkannya sekarang. Ku tarik nafasku dalam-dalam, aku masih baik-baik
saja sampai darah itu mengalir lagi lewat hidungku dan nafasku mulai memberat
tiap detiknya. Hingga aku merasa melayang keluar dari tubuhku sendiri. Oppa
masih memeluk tubuhku karna dia belum sadar akan kepergianku. Gwaenchana oppa,
kuyakin kau akan bahagia. Saranghae oppa...
.
.
.
.
FIN
.
.
.
Annyeong, ini adalah FF titipan temen. Bagi yang lewat atau
gak sengaja baca, mohon tinggalkan komentar ne. Karna 1 komentar itu sangat
mempengaruhi kerja author yang lain. Kemungkinan ada 3 author di blog ini, yang
ini FF karangan author Dhita. Sedang yang lain masih belum publish FF, soalnya
masih liat-liat seberapa baik para reader yang mau kasih komentar. Hhohohho ^^
Jeongmal gomawo bagi yang mau komen, #hug and Kiss :*
Follow juga twitter Owner dari blog ini @youngsml0101 dan
silahkan mention kalau mau tanya-tanya atau sekedar mau temenan sama
author wkkkwkwk :D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar